Top Menu

Tampilkan postingan dengan label Evolusi manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Evolusi manusia. Tampilkan semua postingan

Jejak Manusia Purba Asia Tenggara di Padangbindu. Pertanda Gugurnya Teori Out of Taiwan?--Traces of Ancient Human Padangbindu in Southeast Asia. Harbinger Suicide Theory Out of Taiwan?--indonesia--environment--news--T-REc semarang--komunitas reptil semarang

.SILAHKAN MENGGUNAKAN " MESIN TRANSLATE "..GOOGLE TRANSLATE 
DISAMPING KANAN INI.............


PLEASE USE ........ "TRANSLATE MACHINE" .. GOOGLE TRANSLATE BESIDE RIGHT THIS

..................




Jejak Manusia Purba Asia Tenggara di Padangbindu. Pertanda Gugurnya Teori Out of Taiwan?





Traces of Ancient Human Padangbindu in Southeast Asia. Harbinger Suicide Theory Out of Taiwan?


.... complex Padangbindu in..... existence as an ancient human dwellings, began in 1999 when exploration research conducted by Hubert and Jatmiko in ..... karst area in the village of Padangbindu.


 

 

Jejak Manusia Purba Asia Tenggara di Padangbindu. Pertanda Gugurnya Teori Out of Taiwan?

Perubahan fisik lingkungan alam di Indonesia tidak menyurutkan munculnya berbagai bukti tinggalan artefak budaya dan bukti kehidupan yang sekarang telah hilang musnah. Mongabay Indonesia dalam tulisan ini ingin mengajak pembaca untuk menelusuri masa-masa awal jejak awal manusia (homo sapiens) yang mendiami kepulauan Nusantara.
Jurnalis Mongabay-Indonesia, Taufik Wijaya menuliskan perjalanannya ke Goa Harimau, salah satu lokasi ekskavasi arkeologis penting di Sumsel yang mungkin suatu saat nanti akan mengungkap kebenaran dan merevisi teori utama yang dipercaya saat ini.

Goresan berwarna merah buatan Homo sapiens di dinding belakang Goa Harimau tampak sederhana.  Motifnya antara lain lingkaran, duri ikan, kotak-kotak, zig zag, serta guratan yang tak beraturan.  Sederhana tapi mampu menciptakan beragam imajinasi. Motif zig zag, kotak-kotak, maupun duri ikan mengingatkan saya pada pinggiran motif kain songket khas Palembang.
Melihat lukisan ini, mau tak mau sosok pun terbawa ke masa ribuan tahun yang silam.  Dalam visi imajinasi, saya melihat Homo sapiens yang sedang membawa kerabatnya yang telah meninggal, menggunakan sebuah rakit. Beberapa kali rakit mereka sulit menepi, terhempas derasnya air sungai Air Kaman Basa yang mengalir ke Sungai Ogan. Bagai pemanjat dinding batu, mereka membawa jasad ke dalam Goa Harimau yang lebarnya 45 meter dan tinggi sekitar 25 meter. Mereka pun mengubur jasad dan melakukan ritual memoriam, termasuk melukis di dinding goa.

Terkuaknya keberadaan kompleks goa di Padangbindu sebagai tempat hunian manusia purba, dimulai tahun 1999 saat dilakukan eksplorasi penelitian oleh Hubert dan Jatmiko di goa-goa karst di wilayah Desa Padangbindu.
Goa Harimau merupakan satu dari lima goa yang terdapat di karst Bukitbarisan di Desa Padangbindu. Goa lainnya Goa Putri, Selabe 1, Akar dan Karang Pelaluan. Goa yang paling besar yakni Goa Putri, yang letaknya di tengah dari empat goa lainnya. Diperkirakan kedalaman Goa Putri mencapai 150 meter, dan ketinggian sekitar 20 meter dan lebar 20-30 meter. Di Goa Putri ini terdapat goa lainnya, yakni Goa Penjagaan dan Goa Lumbung Padi.
Nama Goa Harimau sendiri diyakini berasal dari masyarakat setempat yang konon dulu sering mendengar auman harimau dari dalam goa ini.  Sebelum dibuka kembali oleh para arkeolog beberapa tahun silam, goa ini banyak dipenuhi semak, dan ditutupi sejumlah pohonan besar.
Berbagai penemuan artefak dan kerangka manusia purba yang diteliti para arkeolog, menyimpulkan hunian ini berlangsung sekitar masa 10.000-2.000 tahun lalu di sepanjang Sungai Ogan, terutama di Padangbindu. Kelima goa tersebut ditemukan bukti hunian manusia purba, baik ras mongolid maupun austromelanesid.
Selain goa-goa dan ceruk, juga dilakukan pengamatan terhadap sejumlah aliran sungai yang mengandung indikator temuan alat paleolitik seperti kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam, alat serpih, alat serut, kelompok alat jenis pick yang sudah mengalami rounded akibat arus sungai.
Alat tersebut berbentuk segitiga, agak meruncing di bagian ujungnya, dan dibuat dari fragmen fosil kayu. Selain itu didapatkan juga batu pukul dan kelompok batu inti yang bahan bakunya terbuat dari gamping kersikan dan chert (Jatmiko & Hubert Forestier, 2002 ).
Dari sejumlah goa hunian tersebut, saat ini yang paling menarik perhatian para arkeolog maupun sejarawan yakni Goa Harimau. Sejak 2008 hingga saat ini sudah ditemukan 78 kerangka Homo sapiens oleh Arkeologi Nasional (Arkenas) yang diperkirakan  usianya sekitar 3.500 tahun lalu. Menurut hasil ekskavasi posisi jasad yang dikuburkan beragam, ada yang menghadap barat, utara, timur, dan tidak sedikit yang dikuburkan berpasangan. Berbagai bentuk posisi kubur pun bermacam dari primer, sekunder, sampai terlipat dan terlentang.
M. Ruly Fauzi selaku koordinator Lapangan Ekskavasi Goa Harimau dari Center of Prehistory and Austronesian Studies (27/05/2014), menjelaskan pada kedalaman 1,2 meter penguburan Homo sapiens, ditemukan tulang belulang hewan, seperti ikan, monyet, babi, rusa, landak, badak, kerang, gading gajah, hingga kerbau. Di bagian bawahnya, terdapat artefak berupa serpihan batu obsidian, alat pipisan, dan alat tumbuk.
Menurut Ruly, artefak-artefak tersebut diperkirakan buatan Homo sapiens, sebab sebagian serpihan memiliki sisi tajam yang berfungsi sebagai pemotong. Terdapat pula tulang fauna, yang diduga dikonsumsi, yang dipotong menggunakan alat-alat tersebut. Ditemukan pula kerang-kerangan laut yang pecah, dibakar, dan dipotong. Termasuk jejak pengolahan hewan buruan seperti landak dan ikan air tawar. Penemuan kerang-kerangan laut ini memungkinkan indikasi bahwa lingkungan sekitar Goa Harimau sebelumnya adalah tepi lautan.
Selain lokasi penguburan, keunikan dari goa-goa karst Padangbindu adalah adanya temuan lukisan dinding gua yang mengindikasikan goa-goa ini telah ditinggali, sebelum akhir Zaman Es atau sekitar 20.000-10.000 tahun lalu.
Adhi Agus Oktaviana, Ketua Tim Penelitian Goa Harimau dari Pusat Arkeologi Nasional, Kamis (29/5/2014), mengatakan lukisan dinding itu diperkirakan berjumlah 34 motif. Lukisan tersebut diduga bagian dari ritual penguburan.
Berdasarkan catatan sejarah, sebelumnya lukisan dinding goa hanya ditemukan di timur Indonesia. Antara lain di Sulawesi Tenggara. Tepatnya di Mentanduro, La Kabori, Kolumbo, Toko, dan wa Bose, sedangkan ceruk-ceruknya di La Sabo, Tangga Ara, La Nasrofa, dan Ida Malangi. Lukisan dinding goa juga ditemukan di Papua dan Maluku. Penemuan lukisan di dinding goa ini adalah kali yang pertama di Pulau Sumatera.
Artefak logam juga ditemukan, usianya sekitar 3.500 tahun. Artefak logam ini sangat mirip dengan logam Dongsom di Vietnam. Ini menimbulkan dugaan Homo sapiens di Padangbindu telah melakukan hubungan dengan dunia luar, yang saat itu jaraknya sangat jauh.
Jika ekskavasi dihentikan saat ini, maka penemuan kerangka manusia hanya sampai pada kesimpulan bahwa di Padangbindu pernah menetap manusia pada masa penutur Austronesia (Mongolid Selatan). Pertanyaan pentingnya, apakah mungkin di Goa Harimau pernah hidup manusia modern, manusia modern awal, hingga manusia purba?

Mematahkan Teori  Out of Taiwan?
Sampai saat ini manusia purba tertua di Asia Tenggara ditemukan di Pulau Jawa yakni Pithecantropus Erectus. Tetapi penemuan tersebut belum meyakinkan para arkeolog maupun sejarawan, sebab hanya ditemukan dua kerangka. Bahkan salah satunya berupa tulang rahang, beberapa gigi, dan sebagian tulang tengkorak. Bukan sekelompok kerangka Homo sapiens yang lengkap seperti di Goa Harimau.
Itupun ekskavasi Goa Harimau baru dilakukan sekitar 4,8 meter. Jika tinggi Goa Harimau dari bibir sungai sekitar 30 meter, ada kemungkinan jika terus digali secara vertikal, bukan tidak mungkin akan ditemukan kerangka manusia purba dari masa palaeotik. Hal ini diperkuat dengan temuan artefak masa palaeotik di Sungai Ogan dan sekitarnya, seperti kapak genggam dan kapak pembelah.
Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional pada 2013 berhasil mengidentifikasi lapisan tanah berusia 14.825 tahun pada kedalaman dua meter dimana didapati serpihan batu obsidian, alat pipisan, dan alat tumbuk.
Artinya, setidaknya ada manusia dari tiga tingkat budaya yang memanfaatkan Goa Harimau. Guna memastikan alur genetika Homo sapiens yang ditemukan tersebut, para peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional bekerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, mengambil sampel gigi dan tulang Homo sapiens di Goa Harimau.
Pengarah Ekskavasi Goa Harimau dari Pusat Arkeologi Nasional Prof Harry Truman Simanjuntak, dalam wawancara tertulisnya dengan Mongabay Indonesia menjelaskan ada empat periode hunian di Goa Harimau.
Pertama, hunian pertama dan tertua oleh manusia modern awal berlangsung pada akhir Plestosen. Pertanggalan tertua yang tersedia hingga kini dari sekitar 14.500 tahun yang lalu. Periode ini masih terus diteliti untuk memperoleh kronologi hunian yang lebih tua lagi. Bukti-bukti hunian dari periode ini berupa artefak litik (dari bahan batu) dan sisa fauna buruan.
Kedua, hunian awal Holosen sekitar 12.000-3.500 tahun yang lalu. Sisa manusianya belum ditemukan, tapi jika membandingkan dengan wilayah lain pada periode itu kemungkinan besar dari ras Australomelanesid. Bukti-bukti hunian antara lain peralatan litik, alat tulang, sisa pembakaran, sisa hewan.
Ketiga, hunian Penutur Austronesia awal (leluhur Bangsa Indonesia yang pertama menghuni wilayah itu) dari sekitar 3.500-2.000 tahun yang lalu. Bukti-bukti hunian antara lain kubur-kubur manusia, tembikar, sisa fauna, perhiasan, alat tulang dan sisa pembakaran. Kemungkinan lukisan yang ada dibuat pada periode ini walaupun masih terbuka kemungkinan dibuat pada periode kedua.
Keempat, hunian Penutur Austronesia lanjut dengan pengaruh budaya logam pada masa protosejarah, dari sekitar 2.000-1.500 tahun yang lalu. Bukti-bukti hunian sama dengan yang ketiga di atas, tetapi ditambah dengan kehadiran benda-benda logam (perunggu dan besi) sebagai bukti telah berkembangnya hubungan dengan dunia luar.
“Jadi seperti disinggung di atas, penelitian di Goa Harimau masih akan berlanjut terutama mencari hunian yang lebih tua di lapisan yang lebih dalam. Ini sangat penting untuk mengetahui kronologi lengkap hunian gua, sehingga bukti-bukti yang ada akan mengisi kekosongan hunian Sumatera selama periode ini,” tulisnya.

***

Kristantina Indriastuti, arkeolog dari Balai Arkeolog (Balar) Palembang, Jumat (18/7/2014),  bahkan yakin penemuan kerangka manusia purba yang usianya jauh lebih tua (Pithecantropus Erectus dan Meganthropus Paleojavanicus) dapat ditemukan di Goa Putri.
“Sebagai goa yang paling luas dibandingkan goa lain, jelas memungkinkan ditemukan kerangka manusia atau artefak lainnya di goa tersebut. Misalnya di Goa Lumbung Padi,” jelasnya.
Goa Lumbung Padi merupakan salah satu goa yang berada di teras Goa Putri. Pintu masuknya di sebelah timur. Ruangan ini cukup ideal untuk bertempat tinggal, karena kondisi lantai cukup kering dan sinar matahari cukup menerangi ruangan.
Goa Lumbung Padi mempunyai ukuran luas lantai 150 meter, tinggi mulut goa 9 meter dan lebar mulut goa sekitar 25 meter. Adapun komponen alami dalam goa terdapat stalaktit dan stalakmit, formasi ruang bertingkat dan sumber air terdekat terletak tidak jauh dari goa yaitu Sungai Semuhun. Sungai ini mengalir di depan Goa Putri dan mengalir keluar masuk melalui celah-celah goa.
“Kalau dilakukan ekskavasi saya percaya akan ditemukan kerangka manusia purba dan bukti kehidupan purba lainnya,” tegas Kristantina.
Kepala Balai Arkeologi (Balar) Palembang Nurhadi Rangkuti mengatakan penggalian juga akan dilakukan goa-goa lain di Padangbindu. “Prioritas ekskavasi di Goa Harimau karena manusia yang ditemukan bukan hanya ras mongolid juga austromelanesid, dan satu-satunya ditemukan lukisan dinding manusia purba di Sumatera,” katanya. Selain itu, lantai Goa Harimau jauh lebih dalam, sehingga membutuhkan penggalian dan penelitian yang lebih lama.
Jika akhirnya ditemukan kerangka Pithecantropus Erectus dan Meganthropus Paleojavanicus di Padangbindu, kian mematahkan teori sebaran manusia dari utara ke selatan (Out of Taiwan) oleh Peter Bellwood di wilayah Asia Tenggara. Teori ini berdasarkan penyebaran bahasa. Sekarang teori ini banyak bertentangan dengan fakta.
“Menurut hemat saya dari fakta-fakta baru, baik berupa arkeologi, genetika atau DNA, dan lainnya, lebih mendukung sebaran sebaliknya, dari selatan ke utara,” kata Dr. Danny Hilman Natawidjaya, pakar gempa dari Puslit Geoteknologi LIPI, Jumat (18/7/2014). “Ahli yang mengusung teori sebaliknya atau yang sering disebut teori Out of Sundaland antara lain arkeolog Wilhelm Solheim, S. Oppenheimer dari Oxford, Richard Martin, dan masih banyak lagi,” tutur Hilman.
“Kesalahan terbesar yang sering terjadi, orang sering terlalu cepat menyimpulkan  dan fanatik dengan satu konsep saja, misalnya kalangan arkeolog umumnya selalu mencocok-cocokan dengan teori Out of Taiwan. Padahal belum tentu benar. Yang terpenting teliti sampai tuntas isi Gua Harimau itu. Saya dengar masalah umurnya saja kisarannya masih sangat panjang, dari 1.000-3.000-an sampai 6-10.000-an (tahun). Umur penting, misalnya ada kerangka yang berasosiasi dengan artefak alat atau barang pertanian dan berumur lebih dari 4.000 tahun lalu, maka jelas tidak cocok dengan teori Out of Taiwan,” pungkasnya.
Apakah persebaran manusia purba berasal dari Padangbindu? Untuk kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Asia Tenggara melalui Sungai Ogan yang bermuara di Sungai Musi, terus mengikuti arus menuju ke Selat Bangka, yang dari sini, menuju selatan ke Laut Jawa dan ke utara menuju Laut China Selatan?  Suatu saat nanti diharapkan sains akan mampu menjawabnya.


Evolusi manusia, perubahan kulit --T-REC semarang--komunitas reptil semarang

..SILAHKAN MENGGUNAKAN " MESIN TRANSLATE "..GOOGLE TRANSLATE 
DISAMPING KANAN INI.............


PLEASE USE ........ "TRANSLATE MACHINE" .. GOOGLE TRANSLATE BESIDE RIGHT THIS


.....................................




Evolusi manusia, perubahan kulit 



In human evolution, changes in skin's barrier set northern Europeans apart
Date:
June 30, 2014
Source:
University of California, San Francisco (UCSF)
Summary:
The popular idea that northern Europeans developed light skin to absorb more UV light so they could make more vitamin D -- vital for healthy bones and immune function -- is questioned by researchers in a new study. Ramping up the skin’s capacity to capture UV light to make vitamin D is indeed important, however, researchers concluded in their study that changes in the skin’s function as a barrier to the elements made a greater contribution than alterations in skin pigment in the ability of northern Europeans to make vitamin D.
......................
The popular idea that Northern Europeans developed light skin to absorb more UV light so they could make more vitamin D – vital for healthy bones and immune function – is questioned by UC San Francisco researchers in a new study published online in the journal Evolutionary Biology.
Ramping up the skin’s capacity to capture UV light to make vitamin D is indeed important, according to a team led by Peter Elias, MD, a UCSF professor of dermatology. However, Elias and colleagues concluded in their study that changes in the skin’s function as a barrier to the elements made a greater contribution than alterations in skin pigment in the ability of Northern Europeans to make vitamin D.
Elias’ team concluded that genetic mutations compromising the skin’s ability to serve as a barrier allowed fair-skinned Northern Europeans to populate latitudes where too little ultraviolet B (UVB) light for vitamin D production penetrates the atmosphere.
Among scientists studying human evolution, it has been almost universally assumed that the need to make more vitamin D at Northern latitudes drove genetic mutations that reduce production of the pigment melanin, the main determinant of skin tone, according to Elias.
“At the higher latitudes of Great Britain, Scandinavia and the Baltic States, as well as Northern Germany and France, very little UVB light reaches the Earth, and it’s the key wavelength required by the skin for vitamin D generation,” Elias said.
“While is seems logical that the loss of the pigment melanin would serve as a compensatory mechanism, allowing for more irradiation of the skin surface and therefore more vitamin D production, this hypothesis is flawed for many reasons,” he continued. “For example, recent studies show that dark-skinned humans make vitamin D after sun exposure as efficiently as lightly-pigmented humans, and osteoporosis – which can be a sign of vitamin D deficiency – is less common, rather than more common, in darkly-pigmented humans.”
Furthermore, evidence for a south to north gradient in the prevalence of melanin mutations is weaker than for this alternative explanation explored by Elias and colleagues.
In earlier research, Elias began studying the role of skin as a barrier to water loss. He recently has focused on a specific skin-barrier protein called filaggrin, which is broken down into a molecule called urocanic acid – the most potent absorber of UVB light in the skin, according to Elias. “It’s certainly more important than melanin in lightly-pigmented skin,” he said.
In their new study, the researchers identified a strikingly higher prevalence of inborn mutations in the filaggrin gene among Northern European populations. Up to 10 percent of normal individuals carried mutations in the filaggrin gene in these northern nations, in contrast to much lower mutation rates in southern European, Asian and African populations.
Moreover, higher filaggrin mutation rates, which result in a loss of urocanic acid, correlated with higher vitamin D levels in the blood. Latitude-dependent variations in melanin genes are not similarly associated with vitamin D levels, according to Elias. This evidence suggests that changes in the skin barrier played a role in Northern European’s evolutionary adaptation to Northern latitudes, the study concluded.
Yet, there was an evolutionary tradeoff for these barrier-weakening filaggrin mutations, Elias said. Mutation bearers have a tendency for very dry skin, and are vulnerable to atopic dermatitis, asthma and food allergies. But these diseases have appeared only recently, and did not become a problem until humans began to live in densely populated urban environments, Elias said.
The Elias lab has shown that pigmented skin provides a better skin barrier, which he says was critically important for protection against dehydration and infections among ancestral humans living in sub-Saharan Africa. But the need for pigment to provide this extra protection waned as modern human populations migrated northward over the past 60,000 years or so, Elias said, while the need to absorb UVB light became greater, particularly for those humans who migrated to the far North behind retreating glaciers less than 10,000 years ago.
The data from the new study do not explain why Northern Europeans lost melanin. If the need to make more vitamin D did not drive pigment loss, what did? Elias speculates that, “Once human populations migrated northward, away from the tropical onslaught of UVB, pigment was gradually lost in service of metabolic conservation. The body will not waste precious energy and proteins to make proteins that it no longer needs.”
For the Evolutionary Biology study, labeled a “synthesis paper” by the journal, Elias and co-author Jacob P. Thyssen, MD, a professor at the University of Copenhagen, mapped the mutation data and measured the correlations with blood levels of vitamin D. Labs throughout the world identified the mutations. Daniel Bikle, MD, PhD, a UCSF professor of medicine, provided expertise on vitamin D metabolism.

Story Source:
The above story is based on materials provided by University of California, San Francisco (UCSF). The original article was written by Jeffrey Norris. Note: Materials may be edited for content and length.

Journal Reference:
  1. Jacob P. Thyssen, Daniel D. Bikle, Peter M. Elias. Evidence That Loss-of-Function Filaggrin Gene Mutations Evolved in Northern Europeans to Favor Intracutaneous Vitamin D3 Production. Evolutionary Biology, 2014; DOI: 10.1007/s11692-014-9282-7

 


 
 
Designed By OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates