Top Menu

Tampilkan postingan dengan label harimau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harimau. Tampilkan semua postingan

Populasi harimau India meningkat sebesar 30 % dalam tiga tahun terakhir ; negara ini kini memiliki 2.226 harimau--T-REC-komunitas reptil-semarang--KSE-komunitas satwa eksotik

07.25
SILAHKAN MENGGUNAKAN " MESIN TRANSLATE "..GOOGLE TRANSLATE 
DISAMPING KANAN INI............. 

PLEASE USE ........ "TRANSLATE MACHINE.. GOOGLE TRANSLATE BESIDE RIGHT THIS

................. 



T-REC -TUGUMUDA REPTILES COMMUNITY-INDONESIA

 
More info :
minat gabung : ( menerima keanggotaan seluruh kota dan daerah di Indonesia )
08995557626
..................................
KSE – KOMUNITAS SATWA EKSOTIK – EXOTIC PETS COMMUNITY-- INDONESIA
Visit Our Community and Joint W/ Us....Welcome All Over The World
 KSE = KOMUNITAS SATWA EKSOTIK

MENGATASI KENDALA MINAT DAN JARAK

KAMI ADA DI TIAP KOTA DI INDONESIA 

GABUNG......... ( menerima keanggotaan seluruh kota dan daerah di Indonesia )
HUBUNGI   :  089617123865

.........................

Populasi harimau India meningkat sebesar 30 % dalam tiga tahun terakhir ; negara ini kini memiliki 2.226 harimau
 
Menteri Lingkungan Prakash Javadekarwhile merilis laporan the country-wide Tigerassessment untuk  tahun 2014 , disebut peningkatan jumlah harimau sebagai " kisah sukses " dan mencatat bahwa sementara populasi satwa liar ini merosot  di dunia, tapi meningkat di India .
" Ketika kami terakhir menghitung harimau , ada  1.706 . Estimasi terbaru menunjukkan ada 2.226 harimau . Kami  harus bangga dengan warisan kami ini  . Kami telah bisa meningkatkan  sebesar 30 persen dari hitungan terakhir . ini  adalah kisah sukses besar , " kata Javadekar  ......read more





India's tiger population increases by 30% in past three years; country now has 2,226 tigers
NEW DELHI: Tiger population in the country has risen to 2,226 in 2014, a 30 per cent increase since the last count in 2010, the latest census report said today.  Environment Minister Prakash Javadekarwhile releasing the country-wide Tigerassessment report for 2014, termed the increase in the number of tigers as a "success story" and noted that while the population of this wild animal is falling in the world, it is rising in India.  "When we last counted the tigers, it was 1,706. The latest estimation shows there are 2,226 tigers. We must be proud of our legacy. We have increased by 30 per cent from the last count. That is a huge success story," Javadekar said.  The total number of tigers was estimated to be around 1,706 in 2010. Tiger population had dipped to an alarming 1,411 in 2006 but has improved since then.  Officials said that a total of 3,78,118 sq km of forest area in 18 tiger states were surveyed with a total of 1,540 unique tiger photo captures.  "Most of the tigers in the world are presently in India. 70 per cent of the world's tigers are now in India. We have the world's best managed tiger reserves," Javadekar said.  He said that India has unique photographs of 80 per cent of tigers while stating that around 9,735 cameras were used in the estimation. He claimed that nowhere in the world, so many cameras have been used for such an exercise.  The report said that the total estimated population of tigers was somewhere around 1,945-2491 (2,226) as per 2014 report while as per the 2010 report, it was between 1,520-1909.  The third round of country level tiger assessment using the refined methodology of doubling sampling using camera traps has recorded an increase in tiger population.  "In 2006, the mid value of such a (once in four years) snap shot assessment using the same methodology was 1,411, in 2010 it was 1,706 and now in 2014, it stands at 2,226. This is an increase of almost 30.5 per cent since the last estimate," an official statement said.  Officials said that a total of 3,78,118 sq km of forest area in 18 tiger states were surveyed with a total of 1,540 unique tiger photo captures.  Tiger population has increased in several states like Karnataka, Uttarakhand, Madhya Pradesh, Tamil Nadu and Kerela, officials said. 








Global Tiger Day, Upaya Menyelamatkan Harimau-- Tiger Day, Global Efforts To Save Tigers--indonesia--environment--news--T-REC semarang--komunitas reptil semarang

.SILAHKAN MENGGUNAKAN " MESIN TRANSLATE "..GOOGLE TRANSLATE 
DISAMPING KANAN INI.............


PLEASE USE ........ "TRANSLATE MACHINE" .. GOOGLE TRANSLATE BESIDE RIGHT THIS

..................




Global Tiger Day, Upaya Menyelamatkan Harimau




Tiger Day, Global Efforts To Save Tigers


Not many people know that the second day of Eid al-Fitr, i.e. July 29, 2014, to coincide with the anniversary of the world or Global Tiger Day to promote awareness of the Tiger.



Global Tiger Day, Upaya Menyelamatkan Harimau

Tidak banyak orang yang tahu bahwa hari kedua Idul Fitri yaitu 29 Juli 2014, bertepatan dengan hari peringatan harimau sedunia atau Global Tiger Day untuk mengkampanyekan kepedulian masyarakat terhadap harimau.
Penyelamatan harimau menjadi penting, karena populasi harimau sedunia saat ini hanya tersisa antara 3000 – 4000 ekor di alam liar. Jumlah ini menyusut drastis dari sekitar 100.000 di awal abat ke-20. Penyebab utama adalah perburuan besar-besaran satwa kharismatik ini. Selain itu, spesies kucing terbesar di dunia ini telah kehilangan lebih dari 93 persen wilayah sebaran awalnya akibat pembukaan hutanuntuk ekspansi pemukiman serta industri pertanian dan kehutanan. Kondisi populasi harimau di alam yang semakin terancam punah ini, membuat IUCN mengklasifikasikan sebagai satwa kritis terancam punah.
Menyikapi hal ini, pada International Tiger Meeting di St. Petersburg, Rusia, November 2010 yang lalu, telah disepakati upaya bersama untuk menyelamatkan populasi harimau dari kepunahan yang terangkum dalam dokumen Global Tiger Recovery Program atau biasa disebut GTRP. Dalam pertemuan tersebut juga, disepakati hari peringatan harimau sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 29 Juli.
Di Indonesia sendiri, peringatan Global Tiger Day ini menjadi momentum peningkatan kepedulian masyarakat dalam konservasi harimau. Setiap tahunnya, peringatan Global Tiger Day diselenggarakan sejak tahun 2012 di berbagai kota di Indonesia, antara lain Jakarta, Purwokerto, Medan, Palembang, Bengkulu, Jambi,  Padang dan Pekanbaru. Ratusan relawan yang tergabung dalam jaringan Tiger Heart secara rutin mengkampanyekan perang melawan perburuan dan perdagangan harimau sumatera yang masih marak terjadi.
Ketua Forum HarimauKita, Dolly Priatna, menyampaikan bahwa kemajuan teknologi informasi ternyata membawa dampak buruk bagi perlindungan sub-spesies harimau terakhir yang dimiliki Indonesia ini. Mudahnya akses internet membuat jalur perdagangan ilegal harimau dan bagian tubuhnya menjadi lebih mudah. Penjual dan pembeli dapat melakukan transaksi secara langsung dan barang dikirimkan melalui jasa pengiriman barang, tanpa harus bertemu muka. Hal ini mempersulit para penegak hukum dalam memantau jalur perburuan dan perdagangan ilegal harimau.
“Untuk mempersempit ruang gerak pelaku, pelibatan publik secara luas dalam melawan perdagangan ilegal harimau sumatera dan bagian tubuhnya melalui internet menjadi sebuah keharusan. Forum HarimauKita akan terus mendorong Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap situs-situs yang masih melakukan pembiaran adanya jual beli harimau dan bagian tubuhnya,” tegasnya lebih lanjut kepada Mongabay.
Pemantauan perdagangan melalui internet itu sendiri melibatkan ratusan relawan Tiger Heart. Mereka telah berhasil mengumpulkan ratusan situs yang menjual harimau dan bagian tubuhnya. Data-data tersebut dikumpulkan semenjak tahun 2010 dan telah berhasil mengidentifikasi beberapa situs yang sering menjadi media jual beli.  Beberapa pelaku berhasil ditangkap berkat kerjasama dengan PHKA dan lembaga mitra, antara lain Wildlife Crimes Unit (WCU).
Penegakan hukum di Indonesia masih lemah
Diperkirakan pada tahun tujuh puluhan, populasi harimau Sumatera masih sekitar 1000 ekor. Angka tersebut diperoleh dari penelitian Borner melalui survey kuisioner di tahun 1978. Pada tahun 1985,   Santiapillai dan Ramono mencatat setidaknya 800 ekor tersebar di 26 kawasan lindung. Di tahun  1992, Tilson et. al. memperkirakan antara 400 – 500 ekor yang hidup di lima Taman Nasional dan dua  kawasan lindung. Dan di tahun 2007, Kementrian Kehutanan Indonesia memperkirakan minimal 250 individu harimau Sumatera hidup di delapan dari 18 habitat harimau Sumatera.
Sampai saat ini, perburuan ilegal masih menjadi ancaman utama kelestarian harimau sumatera. Hampir seluruh bagian tubuh harimau menjadi koleksi yang paling diincar di pasar gelap. Mills dan Jackson melaporkan lebih dari 3990 kilogram tulang harimau sumatera diekspor ke Korea Selatan sejak 1970 sampai 1993. Tulang-tulang tersebut dijadikan bahan baku obat tradisional China. Selain itu, Sheppard dan Magnus memperkirakan setidaknya 253 ekor harimau sumatera diambil dari habitatnya antara tahun 1998 hingga 2002. Sebagian besarnya diambil secara ilegal.
Di sisi lain, penegakan hukum di Indonesia masih sangat lemah. Dari data yang dihimpun secara kolaboratif oleh Kementerian Kehutanan, Forum HarimauKita, Wildlife Conservation Society (WCS) Fauna and Flora International (FFI), dan Zoological Society of London (ZSL), hanya sebanyak 87 pemburu dan pedagang ilegal yang tertangkap. Dari total angka tersebut, 79 orang di antaranya divonis hukuman penjara. Hukumannya pun relatif ringan, rata-rata hanya sekitar 1,2 tahun. Hal ini sangat tidak sepadan dengan nilai harimau sumatera itu sendiri sebagai penyeimbang ekosistem hutan.
Perang melawan perburuan harimau di lapangan tidak kalah serunya. Berbagai lembaga yang bergerak di bidang konservasi harimau sumatera, telah menggagalkan ribuan upaya perburuan. Minimal sebanyak 265 jerat harimau dan 800 jerat satwa mangsa berhasil diamankan oleh tim  patroli lapangan.
Konflik Manusia dengan Harimau
Konflik antara manusia dengan harimau (KMH) juga menyumbang laju penurunan populasi harimau sumatera di alam liar. Forum HarimauKita melaporkan setidaknya 563 konflik tercatat semenjak tahun 1998 – 2011. Angka tersebut dikompilasi dari laporan lapang WCS, Leuser International Foundation (LIF), FFI, ZSL dan WWF serta PHKA. Konflik-konflik yang terjadi pada periode tersebut telah mengakibatkan 57 orang meninggal dunia dan terbunuhnya 46 ekor harimau.
http://www.mongabay.co.id/2014/07/29/global-tiger-day-upaya-menyelamatkan-harimau/

 
 

Ekosistem Leuser Jadi Target Pemburu Harimau dan Gajah--The Leuser ecosystem so Target Poachers of tigers and elephants--indonesia--environment--news--T-REC semarang--komunitas reptil semarang

.SILAHKAN MENGGUNAKAN " MESIN TRANSLATE "..GOOGLE TRANSLATE 
DISAMPING KANAN INI.............


PLEASE USE ........ "TRANSLATE MACHINE" .. GOOGLE TRANSLATE BESIDE RIGHT THIS

..................





Ekosistem Leuser Jadi Target Pemburu Harimau dan Gajah



The Leuser ecosystem so Target Poachers of tigers and elephants




Warning danger presented by the Leuser Conservation Forum (FKL) who finds an increase in poaching of Sumatran elephants and Sumatran tiger in the Leuser ecosystem (KEL), Aceh. Since 2013-2014, the patrol team FKL found 282 snare wildlife target size of tigers and elephants in a number of places on the KEL.



Ekosistem Leuser Jadi Target Pemburu Harimau dan Gajah

Peringatan bahaya disampaikan oleh Forum Konservasi Leuser (FKL) yang menemukan peningkatan perburuan harimau sumatera dan gajah sumatera di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), Aceh. Sejak 2013-2014, tim patroli FKL menemukan 282 jerat satwa yang target besarnya harimau dan gajah di sejumlah tempat di KEL.
“Ini krisis untuk Leuser, karena kami menemukan banyak perangkap satwa liar di hutan yang dipasang pemburu. Target besar mereka adalah harimau dan gajah,” kata Direktur FKL Dediansyah minggu lalu di Banda Aceh.
Jerat itu dibuat menggunakan alat-alat sederhana dengan desain dan bentuk yang berbeda-beda tergantung jenis satwa yang menjadi target. Tahun 2013, patroli FKL menemukan 127 jerat dengan rincian 43 jerat harimau, 32 jerat burung, 20 jerat rusa, 19 jerat gajah, 13 perangkap badak, dan termasuk menemukan bangkai orangutan. Sementara, dalam enam bulan pertama selama 2014 ini tim menemukan 160 jerat. Ini  menunjukkan adanya peningkatan kegiatan perburuan di KEL yang kondisinya sudah kritis, karena targetnya adalah satwa liar yang terancam punah seperti harimau, gajah, badak, dan orangutan.
“Indikasinya perburuan, karena tim menemukan bekas tali jerat pada bangkai tersebut,” kata Dedi.
Di Soraya dan Bengkung Kota Subulussalam yang berada di sisi selatan dekat Taman Nasional Gunung Leuser yang kini terancam perambahan, tim menemukan empat bangkai gajah jantan dewasa yang tinggal tulang belulang secara terpisah di dalam hutan. Gadingnya telah hilang. Di sekitar lokasi ditemukan jerat tali waja (kabel sling baja) besar, jerat lubang, dan racun. Gajah itu diperkirakan dijerat kakinya sehingga ia terperangkap dan akhirnya mati karena kehabisan tenaga. Pohon-pohon di sekitarnya rubuh karena gajah yang coba melepaskan diri dari jerat.
“Mereka sepertinya tahu itu tempat gajah biasa bermigrasi. Mereka memasang perangkap lalu menunggunya hingga gajah itu kena,”kata Dedi.
Tim juga menemukan jerat paku yang dipasangkan oleh penduduk setempat untuk mengamankan kebun dari gangguan gajah liar.
Di daerah Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya dan Kabupaten Tamiang, pemasangan jerat harimau dilakukan menggunakan jerat tali waja dan nilon serta lubang besar untuk perangkap. Biasanya pemburu ingin satwa dalam keadaan utuh untuk dijadikan offset-an.
Menurut Dedi, satwa lain yang diburu secara besar-besaran adalah landak, burung rangkong, rusa, kijang, orangutan dan berbagai jenis burung berkicau dan langka seperti murai batu, beo dan punai. Perburuan landak juga meningkat tajam di KEL dalam beberapa tahun terakhir. Seekor landak dihargai Rp300 ribu dan dijual sangat mudah karena ada penampung yang bisa menjemput ke lokasi. Mereka mengincar batu dalam perut landak yang katanya harganya mencapai Rp5-10 juta di Medan.
Para pemburu kebanyakan masyarakat lokal yang membuka kebun di sekitar hutan dan juga para pelaku illegal logging. Mereka memasang jerat dengan target rusa dan kijang di hutan dekat kebun mereka. Sementara, pemburu khusus harimau dan gajah diketahui datang dari Sumatera Barat yang pindah dari lokasi mereka yang lama di hutan Kerinci Seblat di antara Riau dan Jambi. Ada juga pemburu yang datang dari Sumatera Utara.
Menurut Dedi diduga ada kerjasama dengan sindikat perdagangan satwa liar internasional. Adanya permintaan satwa liar atau bagian tubuh satwa liar dari pasar internasional menyebabkan Leuser jadi target baru lokasi perburuan karena di sini satwanya masih lengkap dan banyak.
Para spesialis pemburu ini diketahui masuk ke hutan dengan menyamar sebagai pencari kayu alin (gaharu). Jumlah mereka empat hingga enam orang kemudian memencar beberapa kelompok. “Kami tahu mereka orang luar karena masyarakat lokal yang berkebun tidak mengenal mereka,” kata Dedi.
Dediansyah mengatakan para pemburu masuk ke hutan dengan cara menelusuri pinggiran sungai, memanfaatkan jalan-jalan yang dibuka ke dalam kawasan hutan. Ada juga yang merambah hutan, membuka kebun dan tinggal disana,  lalu memasang jerat satwa di sekitar hutan dekat kebun mereka.
“Kami menemukan jerat di jalur jelajah satwa, punggungan bukit dan uning (tempat satwa mengambil mineral). Dipasang dengan sangat ahli meski dengan perangkap tradisional.”
Tim patroli untuk proteksi satwa liar FKL saat ini ada delapan kelompok  yang bekerja sama dengan polisi kehutanan Dinas Kehutanan Aceh untuk melakukan pembersihan jerat dan  menghalau para pemburu di hutan lindung sekitar KEL yang ada di empat kabupaten di Aceh. Mereka memiliki dua tim yang rutin melakukan investigasi: perburuan, para pelaku dan penampung. Mereka juga mendekati para mantan pemburu untuk direkrut ke dalam tim.
Dedi mengingatkan harus ada tindakan cepat untuk menghentikan perburuan di KEL. Sejatinya tim  patrol dibutuhkan untuk terus melakukan pengamanan KEL yang luasnya 2,6 juta hektar dan mencakup 13 kabupaten di Aceh. “Penegakan hukum dan penyadartahuan kepada masyarakat juga harus ditingkatkan untuk mencegah perburuan yang lebih besar ke depan,” tandasnya.

 




 
 
Designed By OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates