Top Menu

Tampilkan postingan dengan label wallacea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wallacea. Tampilkan semua postingan

Profil Ekosistem Wallacea: Usulkan 90 Daerah Penting dan Penyelamatan 37 Spesies Terancam-T-REC semarang-komunitas-reptil-semarang

05.02

 ........SILAHKAN MENGGUNAKAN " MESIN TRANSLATE "..GOOGLE TRANSLATE 
DISAMPING KANAN INI.............



PLEASE USE ........ "TRANSLATE MACHINE" .. GOOGLE TRANSLATE BESIDE RIGHT THIS





Profil Ekosistem Wallacea: Usulkan 90 Daerah Penting dan Penyelamatan 37 Spesies Terancam




Oleh Sapariah Saturi,  January 31, 2014 10:27 am

Ada Gunung Sahendaruman di Sangihe, Danau Poso dan Kompleks Danau Malili di Sulawesi Tengah. Ada juga Gunung Gamkonora di Halmahera dan bentang alam Mebeliling di Flores. Tempat-tempat ini lima dari delapan kelompok daerah penting bagi keragaman hayati (key biodiversity area/KBA) usulan tim penyusunan profil ekosistem Wallacea guna mendapakan dana kemitraan ekosistem kritis. 

Kedelapan kelompok ini berada pada 90 KBA, tujuh kelompok di Indonesia, dan satu di Timor Leste. Peter Wood, pemimpin Tim Profil Ekosistem Wallacea mengatakan, beberapa lokasi itu dipilih berdasarkan penilaian keragaman hayati, komitmen pemangku kepentingan lokal, tingkat keterancaman dan bantuan yang ada di lokasi. “Makin minim pendanaan, makin tinggi prioritas,” katanya kala pertemuan para pihak di Jakarta, Selasa (28/1/14).

Dia mencontohkan, Gunung Saherdaruman, sebagai habitat berbagai jenis keragaman hayati terancam punah Sangihe, seperti capung jarum Sangihe (Protosticta rozendalorum), kacamata Sangihe (Zosterops nehrkorni) dan seriwang Sangihe (Eutrichomyias rowleyi). “Ketiganya sudah kritis, atau selangkah lagi punah. Jenis-jenis ini hanya hidup di satu pulau kecil. Kerusakan habitat dan ancaman lain bisa sebabkan kepunahan.”
Tim juga mengusulkan penyelamatan 37 spesies terancam punah untuk mendapatkan bantuan dari the Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF). Ria Saryanthi, Koordinator Tim Keragaman Hayati Profil Ekosistem Wallacea mengatakan, dari 37 itu, 18 jenis kehati darat, terdiri dari empat jenis burung, tiga jenis kupu-kupu, dua jenis kura-kura salah satu kura-kura leher ular Rote. Lalu, dua jenis mamalia dan lima jenis kantong semar. Sedang 19 jenis kehati laut, yakni tujuh jenis ikan laut, lima jenis mamalia laut, dua jenis kima dan lima jenis penyu.

Penyelamatan pun berbeda-beda. Ada jenis yang cukup efektif dengan menyelamatkan habitat. Namun, bagi hayati dengan tingkat perburuan tinggi baik diperdagangkan maupun dikonsumsi perlu upaya-upaya lebih, seperti memberikan advokasi perlindungan satwa sampai pembuatan kebijakan.
Satu contoh, kakak tua putih di Maluku Utara. Burung ini, katanya, memang belum masuk satwa dilindungi tetapi perburuan sangat tinggi hingga populasi turun drastis. “Perdagangan besar-besaran dari pulau-pulau kecil dan langsung ke Filipina,” katanya.

Untuk itu, lewat kesempatan ini, tim mengusulkan 37 jenis kehati ini masuk dalam prioritas diselamatkan. Jika disetujui,  pendanaan ini bisa digunakan aksi di lapangan, misal advokasi agar satwa dilindungi, dan memberikan penyadaran kepada masyarakat. “Kita sudah diskusikan ini dengan PHKA, Kemenhut. Jika aturan pusat lama, bisa perlindungan lewat peraturan daerah. Jadi, peran daerah sangat penting.”
Ria berharap, profil Wallacea ini bisa menjadi referensi berbagai pihak jika ingin masuk ke wilayah-wilayah itu. “Jadi, tak sebatas profil disusun buat mendapatkan dana CEPF.”







T-REC Semarang-komunitas-reptil-semarang-50-milliar-disiapkan-untuk-pelestarian-kawasan-wallacea

04.02




T-REC Semarang-komunitas-reptil-semarang-50-milliar-disiapkan-untuk-pelestarian-kawasan-wallacea


sumber asli ber bahasa Indonesia, link di bawah ini :
 









 50 Milliar disiapkan untuk pelestarian kawasan Wallacea



JAKARTA, BL- Kawasan Wallacea yang kaya akan keanekaragaman hayati khas yang tidak dijumpai di tempat lain, namun terancam punah kini mendapat perhatian dari  The Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) atau Dana Kemitraan Ekosistem.
 
Lembaga tersebut menyiapkan dana hibah senilai USD 5-juta (setara Rp50-miliar) untuk aksi penyalamatan kawasan Wallacea meliputi kepulauan nusantara di sebelah timur Bali hingga sebelah barat Papua (Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara) serta Timor-Leste.
“Wallacea memiliki keragaman hayati luar biasa yang perlu dilestarikan. Sayangnya, investasi untuk konservasi di kawasan ini masih kalah jauh dibanding kawasan lain di Indonesia, misalnya Sumatera dan Kalimantan,” tutur Agus Budi Utomo, Direktur Eksekutif Burung Indonesia melalui keterangan tertulisnya yang diterima Beritalingkungan.com

Burung Indonesia merupakan organisasi yang bertindak sebagai koordinator konsorsium tim penyusun profil kawasan Wallacea. Tim penyusun profil juga berasal dari organisasi Wildlife Conservation Society, BirdLife International, Samdhana Institute, dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor. 

Menurut informasi yang diperoleh Beritalingkungan.com, ter
hitung sejak 1 Juni 2013, CEPF memulai penyusunan profil  ekosistem untuk kawasan Wallacea.  Profil ekosistem akan menunjukkan wilayah prioritas untuk aksi penyelamatan, sekaligus menjadi pedoman bagi CEPF dalam mengucurkan dana hibah senilai Rp 50-miliar selama lima tahun mendatang.

Hibah tersebut akan diberikan kepada organisasi non-pemerintah untuk mendukung upaya-upaya konservasi di wilayah Wallacea.

“CEPF memberikan kucuran dana dan bantuan teknis bagi organisasi non-pemerintah seperti organisasi nirlaba, institusi pendidikan, dan sektor swasta, untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan ekosistem yang sehat, sebagai komponen penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat,” ujar Daniel Rothberg, grant director for region CEPF .

CEPF merupakan inisiatif kerjasama l'Agence Française de Développement, Conservation International, the European Union, the Global Environment Facility, the Government of Japan, the MacArthur Foundation dan World Bank. Salah satu tujuan CEPF adalah untuk mendorong agar masyarakat luas terlibat dalam konservasi keanekaragaman hayati.

Strategi CEPF difokuskan pada konservasi spesies yang terancam secara global, kawasan-kawasan prioritas, dan koridor konservasi—daerah yang menghubungkan habitat-habitat kunci tumbuhan dan hewan. Melalui dukungannya, CEPF juga berharap dapat memberi sumbangsih pada pengentasan kemiskinan dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Kawasan
Wallacea dipilih dalam program ini karena kaya keragaman hayati. Namun, keragaman hayati tersebut terancam pengrusakan, pemanfaatan berlebihan, dan invasi jenis-jenis asing. Wallacea juga terkenal dengan jenis-jenis endemis alias khas yang tidak dijumpai di tempat lain, tetapi sebagian di antaranya telah masuk dalam daftar jenis terancam punah World Conservation Union (IUCN).

Menurut Agus, program CEPF akan membawa tambahan pendanaan yang sangat dibutuhkan, dan profil ekosistem yang dikembangkan akan memastikan bahwa dukungan tersebut digunakan untuk mengatasi masalah-masalah yang paling mendesak dan penting.

Penyusunan profil akan selesai sebelum pertengahan 2014. Selama eman bulan ke depan, tim akan mengkaji aspek sosial, ekonomi, serta ekologi kawasan di Wallacea, yang mencakup wilayah daratan maupun perairan laut dekat pantai. Uniknya, proses ini menggabungkan hasil analisis ilmiah dengan pengetahuan dan aspirasi masyarakat. CEPF sangat mendorong keikutsertaan masyarakat setempat, pemerintah daerah, dan segenap pihak yang dapat menyumbang data mengenai wilayah ini.

Karena itu, selama penyusunan profil berjalan, masyarakat diberi kesempatan menyalurkan aspirasinya melalui website www.wallacea.org, laman facebook Profil Ekosistem Wallacea, maupun surat. Selain itu, para pemangku kepentingan diundang memberi masukan melalui workshop yang rencananya digelar pada Juli hingga September 2013. Workshop akan diadakan di beberapa daerah di Indonesia dan di Timor-Leste.

Pengumuman dimulainya proses penyusunan Profil Ekosistem ini disambut baik oleh masyarakat dan pemangku kepentingan di Wallacea. 

“Jika dilakukan dengan benar, kami berharap proyek ini dapat menjadi landasan model pembangunan yang lebih memiliki perspektif kepulauan, serta mementingkan aspek keselamatan warga maupun produktivitas dan jasa lingkungan,” kata Tjatur Kukuh, Direktur Eksekutif Santiri Foundation, salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) di kawasan timur Indonesia. (Marwan Azis).



T-REC Semarang-komunitas-reptil-semarang-news-4-U











 
Designed By OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates